Beda Data Stunting, Pemkot Manado Gencarkan Giat Posyandu

MANADO, Edisisatu.com, – Ada Perbedaan Data Signifikan antara SKI dan EPPGBM, Pemkot Manado Terus Giatkan Posyandu.

Kasus stunting di Sulawesi Utara, seperti hasil rilis dari Kementerian Kesehatan menunjukkan tren yang meningkat. Dari 15 kabupaten dan kota di Sulut, ada 8 daerah yang mengalami kenaikan kasus di tahun 2023.

Kota Manado menjadi salah satu daerah yang mengalami peningkatan kasus stunting. Pemerintah Kota Manado melalui Dinas Kesehatan mengakui pihaknya masih memerlukan kerja keras untuk penuntasan masalah gizi.

“Pemerintah Kota Manado sangat menghargai hasil Survey Kesehatan Indonesia (SKI) tahun 2023 yang menggambarkan adanya kenaikan kasus Stunting dari 18,4% ke 21,8%. Hal ini menggambarkan masih perlunya kerja keras dalam penuntasan masalah kekurangan gizi di Masyarakat,” kata Bobby Kereh, Plh Kepala Dinas Kesehatan Manado, Kamis (30/05/2024).

Namun, Dinas Kesehatan Manado juga mempunyai data yang valid mengenai angka stunting yang menurutnya sangat jauh dari data SKI 2023.

“Secara data faktual by name by address, Pemerintah Manado memiliki data adanya 74 Balita Stunting yang terukur di bulan Februari 2024, dari 17.472 Balita yang diukur pada bulan yang sama. Jadi angka kasus per bulan Februari 2024 adalah hanya 0,42%. Sangat jauh dibawah hasil SKI 2023 yg mencapai 21,8%,” ungkap Kereh.

Kata Kereh kemudian, alat yang dipakai pihaknya untuk mengukur balita sudah sesuai standar dan tersertifikasi dan dibagikan oleh Kemenkes RI.

“Alat ukur yang dipakai untuk mengukur balita ini adalah Antropometri yang tersertifikasi dan yang dibagikan oleh Kemenkes RI. Dan juga kami terus giatkan posyandu, untuk mencegah peningkatan angka kematian ibu dan bayi saat kehamilan, persalinan, atau setelahnya melalui pemberdayaan masyarakat,” ungkapnya.

Lanjutnya, setelah di balita diukur hasilnya kemudian diinput ke aplikasi yang dikembangkan oleh Kementerian Kesehatan RI.

“Hasil Pengukurannya di input ke Aplikasi berbasis Website yang dikembangkan oleh Kemenkes RI, yakni elektronik Pencatatan dan Pelaporan Gizi Berbasis Masyarakat (e-PPBGM). Aplikasi inilah yg kemudian menghitung berdasarkan algoritmanya dan menentukan Stunting atau tidaknya si balita. Hal ini tentunya untuk menghindari bias dari petugas pengukur,” tandas Kereh.

Namun, setelah hasilnya keluar, terdapat perbedaan yang signifikan antara data real EPPBGM dan hasil SKI 2023.

“Mengenai perbedaan mencolok antara data real ePPBGM dan hasil SKI 2023. Tentunya Pemkot Manado akan berkoordinasi untuk secepatnya mengidentifikasi 21,8% kasus stunting yang dilaporkan oleh SKI ini. Supaya, anak-anak ini bisa diintervensi asupan gizinya dan diperbaiki kondisi stuntingnya,” jelasnya.

Dinas Kesehatan Kota Manado dan stakeholder terkait akan berupaya melakukan koordinasi untuk memperbaiki status gizi masyarakat.

“Ke depan juga akan diupayakan peningkatan koordinasi antar instansi untuk memperbaiki status gizi di masyarakat, ” tutupnya. (*)

Loading

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *